Sabtu, 11 Desember 2010

pengamen MENAMPAR saya

pengamen MENAMPAR saya


sebelum baca
ADA BAIKNYA KALAU kawan kawan lagi muter musik mohon kecilin volumenya


[B]terimakasih[/B]:kiss

tadi siang gan pas aku berangkat kerja (kedaerah gatsu- [B][SIZE="1"]jakarta.red[/SIZE][/B] dari grogol ane naik 46.
Pas sekitar kampus SUPRA ada pengamen naik gan,
dandanannya gak mbosenin ( lumayan rapi) rambut gondrong
pake jins sepatu kets ( tampang2 aktivis demen demo)
itu gambaran singkat fisiknya gan.:iloveindonesia

Dia ga bawa gitar atau icik icik (apa si namanya yang dari tutup botol itu??)
tapi dia bawa seruling bambu..

Adem banget gan suara serulingnya...
(lamat lamat ane denger terus kecilin musik
yang ane dengerin lewat headset)
ada sekitar 2 menit dia tiup itu seruling.
selanjutnya dia ambil kertas dari tasnya...
(ternyata sebuah puisi)
ane gak catat tu puisi tapi ane inget judulnya

[B]"Makna Sebuah Titipan"[/B]
dan berkat paman g**gle saya temukan puisi itu gan.

[QUOTE][CENTER]Seringkali aku berkata,

Ketika semua orang memuji milikku

Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan

Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya

Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya

Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya

Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya


Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya :

Mengapa Dia menitipkan padaku ???

Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???

Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ???


Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?


Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah

Kusebut itu sebagai ujian,

Kusebut itu sebagai petaka

Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita


Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku

Aku ingin lebih banyak harta,

Ingin lebih banyak mobil,

lebih banyak popularitas,

Dan kutolak sakit,

Kutolak kemiskinan,

Seolah semua”derita” adalah hukum bagiku

Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika :

Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku,

Dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih

Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,

Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku


Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.


“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”..[/CENTER][/QUOTE]

Luar biasa nampar gan puisi dari WS Rendra,
DalEM BANGET mengingatkan saya dan juga kawan kawan
tentang makna kebahagiaan yang sebenarnya..
Yang semata – mata bukan hanya diukur dari
[B]harta benda dan pangkat semata[/B]…
Memberikan kita sudut pandang yang berbeda
mengenai bagaimana seharusnya kita
menyikapi segala hal yang terjadi dalam hidup kita,
baik itu [B]kebahagiaan, kesengsaraan, penerimaan,
penolakan, ketidak adilan, keberhasilan dan kegagalan….[/B]

SETdah MERINDING ABIS DENGER TU PENGAMEN..
....tapi aku tetep gan gak mau kasih receh ke "mereka"...
ane buka tas, ambil rokok sodorkan ke pengamen itu
.....sembari ane bilang TERIMAKASIH.

maap kalau judulnya provokatif
tapi bener ane ngerasa tertampar
sama puisi RENDRA yang dibawakan elegan oleh pengamen.


selamat jalan burung merak.

makasih telah membaca

Prof. Ir. R.M. Sedyatmo (1909-1984)



Penemu Pondasi Cakar Ayam
Prof. Ir. R.M. Sedyatmo (1909-1984) Lulusan ITB angkatan 1934 ini berhasil menemukan pondasi cakar ayam pada tahun 1962. Sistem pondasi ini memungkinkan pembangunan di atas lahan yang labil, seperti landasan pacu pelabuhan udara Soekarno Hatta, Jakarta, dan banyak bangunan lain di seluruh dunia. (dari Indonesia nih )
Awalnya desainnya dipergunakan untuk Apron Bandara Juanda, Polonia dan Soekarno-Hatta dan menyebar ke segala bidang. Lulusan ITB tahun 1934 (dahulu THS: Technische Hogescholl) ini diabadikan namanya menjadi nama jalan tol di utara Jakarta. Pondasi Cakar Ayam sudah dipatenkan di 11 negara dan saat ini dimodifikasi oleh dosen-dosen dari UGM.